Wednesday, May 4, 2011

Resensi Marmut Merah Jambu

Judul : Marmut Merah Jambu

Penulis : Raditya Dika

Penerbit : Bukune

Tahun Terbit : 2010

Tebal Buku : vi+222 halaman



Marmut Merah Jambu merupakan buku kelima karya Raditya Dika, penulis yang kerap disapa “Dikung” oleh penggemarnya. Buku ini terbit setelah buku-buku seperti Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, dan Babi Ngesot yang laris dikonsumsi kalangan remaja.

Buku yang telah sold out di pasaran sejak cetakan pertama ini memiliki 13 chapter ini berisi tulisan-tulisan komedi konyol ala Raditya Dika dan merupakan pengalaman serta observasi Dika dalam menjalani hal yang paling tidak masuk akal tetapi sering terjadi pada setiap manusia di dunia: jatuh cinta.

Tak hanya manusia yang merasakan jatuh cinta. Pada chapter yang berjudul “Buku Harian Alfa”, Dika bercerita bahwa kucing betina miliknya dapat menulis buku harian. Tak masuk akal, memang. Alfa, kucing betina yang cantik jelita, berperilaku layaknya manusia. Ia dapat menggambar, menonton televisi, dan jatuh cinta. Alfa pernah ikut nonton acara Take Me Out di televisi ketika keluarga Nasution, keluarga Dika, sedang bersantai sembari menonton acara salah satu televisi swasta tersebut, dan ia berpikir panjang untuk pacaran. Alfa pernah dekat dengan seekor kucing Spinx tetangga sebelah. Tapi, Alfa ilfil karena ia pernah dicakar ketika meminta makanan.

Selain itu, Alfa suka musik manusia. Ia mendambakan menjadi anggota keempat dari Trio Macan. Menurut Alfa, Trio Macan adalah grup musik yang terhebat karena terlalu kencangnya mereka memutar kepala, mereka lalu terbang ke luar angkasa. Alfa juga merupakan kucing yang eksklusif. Ia sering diajak Edgar, adiknya Dika, pergi ke mall dengan cara dimasukkan ke dalam tasnya Edgar. Dan masih banyak hal-hal konyol lainnya yang dilakukan Alfa selama menjabat sebagai kucing kelurga Nasution.

Marmut Merah Jambu ringan untuk dibaca karena bahasa yang digunakan aktor film Kambing Jantan ini merupakan bahasa sehari-hari yang dipakai para remaja jaman sekarang. Selain itu, buku ini tidak mengandung hal-hal maupun cerita yang menjurus ke arah seksualitas seperti novel-novel remaja yang beredar di pasaran.

Dalam buku ini, banyak diceritakan mengenai kisah-kisah cinta yang sering terjadi diantara muda-mudi kita. Buku yang bergenre humor ini cocok dikonsumsi mulai dari kalangan pelajar yang tergolong remaja hingga orang dewasa. Buku ini juga menciptakan sense of humor karena kekonyolan cerita dan humor-humor yang diciptakan si penulis.

Dapat disimpulkan bahwa Marmut Merah Jambu dapat dijadikan buku penghibur karena berisi cerita-cerita cinta yang ringan dikonsumsi. Selain itu, buku ini berbeda dari buku-buku humor yang lain karena kekonyolan cerita si penulis. Selamat menjelajahi negeri humor.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment